Kereta melaju menembus kabut dini hari
Air mata kering, meski bercampur bau keringat
Mengantar plasenta yang mengering
Runtuh sisakan memar
Dada semakin sesak dihimpit sunyi melebur
Jantung bertalu bagai radar sampaikan amaran
Ternyata tak selamanya jemari kecil menyentuh kulit bersuara
Rasanya hampir ditimpa gerhana
Seketika suara nyaringmu bisu saat memanggilku
Napas yang bertumpu pada selang oksigen
Meratapi janji terikat
Saat raga yang gemetar, getir, dan lirih
Hampir tak sadar memacu hingga tepi jurang
Ada yang berhenti beranjak
Ada yang berhenti berdenyut
Ada yang menyerah menerjang
Hening,
Rupa-rupa rasa
Menemani gelap gulita malam ini
Amuk amarah, setitik kecewa
Mencari jalannya sendiri
Perayaan berhenti di enam
Ada di sana
Dia terjebak pada taman syurga
Sampai nanti saatnya berjumpa