Amara melangkah keluar dari ruang kerjanya di lantai 35 dengan langkah berat.
Hari itu, Bimo sempat kembali menghampirinya di meja kerja.
“Ra, gimana bukunya? Udah sempet dibaca?” tanya Bimo, dengan nada santai seperti biasa.
Amara mengangkat wajahnya dari layar komputer, sedikit tersenyum tipis. “Belum, Bim. Belum sempat. Kerjaan numpuk.”
Di layar komputernya, baris-baris kode masih berkedip. Monitor besar di mejanya memuat diagram sistem yang kompleks, salah satu proyek penting yang sedang ia tangani. Jari-jarinya masih sibuk mengetik sebelum Bimo datang, tapi kini ia membiarkan tangannya terkulai di samping keyboard.
Bimo mengangguk, tapi senyum optimisnya tetap bertahan. “Santai aja, kalau lo sempat baca, gue yakin bakal suka. Buku itu cocok banget buat lo.”
Ia melirik jam tangannya. “Oke, gue balik ke meja dulu ya. Kalau butuh bantuan apa-apa, tinggal bilang.”
“Thanks, Bim,” jawab Amara singkat, sebelum kembali menatap layar komputer.
Kali ini, pikirannya sedikit terganggu oleh buku yang diberikan Bimo. Ia melirik buku itu yang tergeletak di sudut meja, lalu menghela napas sebelum kembali mengetik kode.
Sekarang, hari kerja itu akhirnya selesai. Amara menenteng tas kecil di bahunya dan buku pemberian Bimo di tangan. Suasana kantor sudah sepi, hanya menyisakan beberapa pegawai yang masih sibuk di depan komputer. Ia berjalan pelan menuju lift, menekan tombol turun, dan menunggu pintu logam itu terbuka.
Ketika Amara melangkah keluar dari gedung, angin malam yang sejuk menyambutnya. Langit kota malam itu jernih, dengan bulan yang bersinar terang di atas gedung-gedung tinggi. Amara berhenti sejenak di trotoar, mendongak ke langit. Ada sesuatu tentang bulan malam itu yang membuatnya merasa aneh—seolah sedang diawasi, atau mungkin, diberi tanda.
Ia menggenggam buku di tangannya lebih erat, seakan benda itu adalah satu-satunya yang menghubungkannya dengan dunia nyata. Langkahnya lambat saat ia berjalan menuju halte bus terdekat dan pergi menaiki jembatan penyebrangan orang. Bayangan gedung-gedung menjulang di sekitarnya terasa lebih besar dari biasanya, membuatnya merasa kecil di tengah kota yang sibuk.
Setibanya di apartemen, Amara masuk ke dalam ruangan yang sunyi. Ia menaruh buku itu di atas meja, tepat di samping laptopnya yang masih menyala. Mata Amara tertuju pada layar ponsel yang bergetar di meja. Sebuah notifikasi muncul dari aplikasi anonim itu.
Pesan itu masih ada di sana.
Awalnya, Amara hanya mengabaikan, menganggap pesan itu sebagai lelucon. Namun, ada sesuatu yang berbeda malam ini. Teks pendek yang muncul di layar membuatnya berpikir. Ia menggulir layar ponsel, membuka aplikasi anonim yang menjadi tempat pesan itu terkirim.
“Halo, gue cuma mau cerita. Dunia ini rasanya sunyi banget akhir-akhir ini. Lo mau dengerin nggak?”
Pesan itu sederhana, tanpa nama pengirim atau avatar. Hanya ada nomor acak yang ditampilkan sebagai identitas. Amara memiringkan kepalanya sedikit, alisnya bertaut. Ia menghela napas dan meletakkan cangkir kopi ke atas meja.
“Orang iseng lagi,” pikirnya, namun rasa penasaran mengusiknya. Tangannya mengetik balasan tanpa terlalu memikirkan apa yang ditulisnya.
“Siapa lo?”