Sastra

Budak yang Ditempa Api

Di pinggir kota yang tumbuh dengan gedung-gedung tinggi dan lampu
yang tak pernah benar-benar tidur, aku dilahirkan.
Sejak awal, hidup memperkenalkanku pada satu paradoks: menjadi budak yang merasa dirinya merdeka.

Aku ditempa seperti sebongkah besi di dalam bara.
Panasnya tak pernah meminta izin.
Hari-hari membakarku perlahan, mengikis yang rapuh, menyisakan apa yang sanggup bertahan.
Dari tempaan itulah aku belajar bahwa ketajaman bukanlah hadiah, melainkan hasil dari luka yang diterima berulang kali.

Aku tumbuh seperti anggur yang disimpan dalam gelap.
Waktu menimbunku di bawah tanah kehidupan,
membiarkanku berkenalan dengan sepi, kecewa, harapan,
dan pertanyaan-pertanyaan yang tak selalu memiliki jawaban.
Hari demi hari berlalu, dan aku memahami bahwa nilai seseorang
sering kali lahir dari kesabarannya menghadapi proses.

Barangkali aku terlalu peka terhadap suara-suara di sekitarku.
Aku melihat kegelisahan yang sering diabaikan orang lain.
Aku mendengar keluhan yang tenggelam di antara keramaian.
Karena itulah aku tak pernah terlalu peduli pada cap yang diberikan kepadaku.
Pujian tidak membuatku terbang, dan celaan tidak membuatku berhenti berjalan.

Mereka menyebutku pemberontak.
Mungkin karena aku terlalu sering bertanya mengapa sesuatu harus diterima begitu saja.
Mungkin karena aku lebih memilih melawan ketidakadilan daripada berdamai dengannya.
Namun di tengah segala perlawanan itu, aku tetap menemukan jalan pulang pada Tuhanku.
Sebab aku percaya bahwa kemanusiaan dan keimanan bukanlah dua jalan yang berbeda.

Meski demikian, ada hal-hal yang belum pernah benar-benar berhasil kutaklukkan.

Aku pengecut di hadapan cinta.

Barangkali karena aku tak percaya pada cinta yang lahir dari kesempurnaan. Kesempurnaan terlalu sunyi untuk dicintai. Aku lebih percaya pada cinta yang lahir dari keresahan; dari manusia yang saling menemukan dirinya dalam retak satu sama lain.
Aku juga pengecut di hadapan dunia yang terlalu luas dan terlalu cepat berubah.

Tetapi aku tidak pernah ingin menjadi pengecut di hadapan diriku sendiri.

Karena itu, revolusi yang paling panjang bukanlah revolusi terhadap sistem.
Revolusi yang paling sulit adalah revolusi terhadap diri sendiri.

Semuanya mulai menemukan bentuk ketika aku duduk di bangku sekolah menengah atas.
Kata-kata datang mengetuk pintu pikiranku.
Ide-ide yang dianggap terlalu liar mulai mencari rumah di dalam puisi dan sastra.
Kritik-kritik lahir dari kegelisahan.
Suara-suara lantang tumbuh dari pertanyaan-pertanyaan yang lama dipendam.

Waktu terus bergerak.
Zaman terus berganti.

Namun aku masih memegang keyakinan yang sama:

Akulah yang melangkah
Akulah yang memilih
Akulah yang bertanggung jawab atas hidupku sendiri

Dan ketika tubuh ini suatu hari berhenti berjalan, aku berharap kata-kata tetap menemukan jalannya. Sebab manusia akan mati, tetapi gagasan sering kali hidup lebih lama daripada pemiliknya.

Namaku Muhammad Suryo Utomo

Suryo, matahari yang diharapkan mampu memberi terang bagi sekitarnya.
Utomo, pengingat untuk selalu mengutamakan kebaikan sebelum kepentingan diri sendiri.
Aku tidak tahu apakah aku akan mampu memenuhi seluruh makna yang terkandung di dalam nama itu.

Namun setiap hari aku berusaha berjalan ke arahnya.

Nama itu diberikan oleh seseorang yang mungkin tak selalu mampu menghadirkan segala yang dibutuhkan oleh tubuhku, tetapi selalu berusaha memenuhi kebutuhan jiwaku.

Dan untuk itu, aku akan selalu mengingatnya sebagai pahlawan dalam hidupku.

Like 1
Dislike 0
Shares:
Berikan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *