Gadis berambut merah terduduk di sudut kamar. Akhir-akhir ini, tumpukan letih melukis pesona wajahnya. Setelah selesai bekerja seharian ia bergegas untuk pulang, melakukan ritualnya setiap hari agar tetap mampu mewaraskan
Sastra
aku ingin tenang,tapi tenang itu apa? katanya…tenang sering didoakanuntuk sesuatu yang sudah selesai,yang tak lagi berjuang. lalu aku bertanya,tenang yang ku mauharuskah se-sepi itu? aku hanya ingin seperti di tepian
Aku mencintai kemalasandengan segenap “mager” yang biasa Berasa pupus dari jangkauanSiap-siap pada hitungan jari aku mencari kambing hitamDi antara penyedia, penyewa atau pemilik Mengupayakan mimpi nyamanpada setiap jam tidurBangun pada
Rumit menjadi sahabat setia kiniEntah darimana lagi harus kuyakinkanBahwa,Desir panah itu memang tak sampai ke busurnyaSenja tak lagi menghadirkan keindahan soreGemintang menahan suaranyaRiuh tapi sunyi Ilalang-ilalang bergantianTumbuh disela sela keraguanSemakin
Dan,lagi,Ia menawar peluknya. Kembali pada dekapnya,hingga,gusarku tak lagi bersasar,pada ragu yang kupunya. Karena,sudah habis,ditepis-lalu terbakar oleh doa-nya. Bu,Lagi.Maafkan aku kini—sebab,meragukan tangguhmu yang menurun jadi dagingku. Maaf pula,untuk yang akan datang
Meraung tanpa jeda di tengah hening yang terlalu sunyi,aku berlari.. bukan untuk pergi, tapi untuk menemukan arah pulangyang entah sejak kapan terasa asing. Langkahku tersandung daun-daun kering,berserakan, menutup jalan yang
Kuketuk pelan-pelan pintu ruang isolasiKemoterapi di awal ashar tadiKulirik tetesan infus menetes perlahanMengganggu siklus pembelahan selMerusak DNA selSel kanker yang akan menyengat setiap perempuan di muka bumi Dua wanita paruh
“Aku sayang kamu”Kata-kata yang sering diucapkan bagi orang yang punya rasaKalimat yang bisa membuat tenang bagi yang mendengarnyaTerkadang juga dapat merasa geli dibuat olehnya “Aku sayang kamu”Ah rasanya sudah lama
akanku kenangakanku kenangkan selalu ku kenang! mana semua keramaian yang kau janjikan?lirih suara sukmaku mungkin memang tak terdengar!!! bertahun aku merajut simpul tak kasat,renjana dalam hati membara seakan akan kamulah
To live is to painOr even to die To live is to painEven to suffered To live is to painEven worse to live in hole To live is to painWalking
Aku berdoa kepada langit yang menurunkan hujan. Jika perasaanku tak bisa membuatnya kembali, musnahkanlah bersama rintik hujan dan meresap ke dalam tanah.
Dalam sunyi, sering kali aku melamun. Bertanya pada diri tentang kehidupan. Terlalu banyak hal yang menumpuk di kepalaku. Pertanyaan demi pertanyaan membebani pikiranku. "Apakah aku layak di sini?" "Apakah aku
Artikel Lainnya











